Fakta Sejarah
Kaisar Charlemagne V, sang penguasa Imperium Byzantium, terhenyak, takjub menyaksikan hadiah yang dibawa utusan Harun Al Rasyid, Khalifah kelima dari Daulah Abbasiyah. Hadiah yang dipersembahkan adalah sebuah jam yang mempunyai jarum yang berputar dan berdetak. Para penasehat kaisar sontak berkesimpulan bahwa hadiah tersebut adalah permainan sihir. Tapi setelah utusan Khalifah menjelaskan tentang sistem kerja jam tersebut, barulah sang kaisar termanggut-manggut mengerti.
Kisah ini direkam oleh sejarah, sebagai bukti kecil betapa Barat masih sangat terkebelakang diabad pertengahan. Mereka hidup dalam belenggu khurafat dan takhyul, tak mampu berpikir logis dalam menata peradaban mereka sendiri. Disaat yang sama, Islam dengan prinsip keadilan dan persamaannya, tengah memandu kereta peradaban manusia menuju pencapaian kemakmuran dan kesejahteraan yang tinggi untuk dua dimensi kehidupan. Dunia dan akhirat.
Yang terjadi kemudian adalah sebaliknya. Saat pengaruh institusi khilafah kian melemah dan umat Islam terpecah dalam kesultanan-kesultanan kecil,  Barat bangkit menata diri. Revolusi Perancis dan Inggris adalah momen kembar bagi Barat dalam mendorong isu  revival of learning  (kebangkitan belajar). Hingga kita lihat sekarang, Barat mengalami kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat.
Sebaliknya, dunia Muslim dewasa ini mengalami kebangrutan di bidang pendidikan. Di manapun tidak kita temukan suatu lembaga yang menangani pendidikan seorang Muslim sejak dia berusia 5 tahun dan mengembalikannya ke tangan ummah dengan potensi yang telah dikembangkan sepenuhnya. Kita tidak mempunyai fasilitas yang dapat memenuhi kewajiban melatih si muslim untuk mengubah dunia dan manusia secara material sebagaimana yang dikehendaki oleh pola Ilahi dengan kesadaran bahwa pola Ilahi itu sendirilah tujuan akhir eksistensi pribadinya.
Lahirlah serjana-serjana muslim dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, namun keberadaan mereka tidak memberikan pengaruh terhadap ummah ini. Ibarat kata pepatah “Datang tak menambah, pergi tak mengurangi”. Apa yang telah mereka sumbangkan untuk Islam ? Apa peranan mereka dalam menyelesaikan problematika yang melanda ummah ini?
Kenyataannya, negara yang berpenduduk mayoritas muslim, kebanyakan disebut sebagai negara berkembang, negara pihak ketiga atau bahasa kasarnya negara ‘terkebelakang’ dalam banyak hal.

Tiga Komponen Utama Pendidikan Terpadu.
Permasalahan di atas harus kita carikan jalan keluarnya. Solusi yang paling tepat adalah dengan melaksanakan sistem pendidikan terpadu, kalau bisa dimulai dari pendidikan anak umur 5 tahun.
Pendidikan terpadu yang kita maksud memiliki tiga unsur utama: Pertama, Islamisasi ilmu pengetahuan. Maksudnya, semua cabang disiplin ilmu yang diajarkan, tidak boleh keluar dari kerangka ‘pengtauhidan’ Allah SWT. Tidak ada istilah dikotomi ilmu pengetahuan. Semua ilmu berasal dari Allah, baik itu bilogi, fisika, matematika dan sebagainya, dan dipelajari untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT. Firman Allah :
“Ia berkata, “Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan mambawanya tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh.” (Q.S al Ahqaaf : 23)
Sebagai prinsip penge-tahuan, tauhid adalah pengakuan bahwa Allah, yakni Kebenaran (al-Haqq), itu ada, dan bahwa Dia itu Esa. Ini mengimplikasikan bahwa semua keberatan, semua keraguan, dapat diajukan kepada-Nya; bahwa tidak ada pernyataan yang tidak boleh diuji, yang tidak boleh dinilai secara pasti. Tauhid adalah pengakuan bahwa kebenaran bisa diketahui dan manusia mampu mencapainya.
Sehingga para mutafannin (ulama multi disipliner), mengutip pendapat Ibnu Khaldun dalam magnum opusnya Muqaddimah, dapat dilahirkan kembali dari rahim umat Islam. Sosok-sosok yang mampu menerangkan aqidah dan hukum-hukum Islam secara brilian, sefasih ketika menerangkan disiplin ilmu ekonomi atau kedokteran. Ya, sosok seperti Ibnu Rusyd, Al Khawarizmy, Al Biruni dan banyak lagi.
Kedua, Keterpaduan pengolahan di bidang pendanaan, pembangunan fisik dan proses belajar-mengajar. Di bidang pendanaan, pihak sekolah dituntut mampu mengelola keuangannya sebaik mungkin. Bukan berarti pemerintah bisa berlepas tangan, tidak memberikan bantuan untuk pendidikan. Minimal pemerintah memberikan bantuan berupa modal kepada lembaga pendidikan, untuk dikelola (dijadikan modal usaha) dan keuntungannya digunakan untuk biaya operasional sekolah .
Pelaksanaannya cukup dengan mendirikan unit-unit usaha yang mendukung pelaksanaan pendidikan terpadu.Yaitu mendirikan unit usaha sesuai dengan ilmu terapan yang diajarkan, seperti BMT (lembaga keuangan syari’ah), percetakan, mini market, perikanan, pertanian, dan sebagainya.
Sehingga anak didik bisa  mempraktekkan ilmu yang telah mereka pelajari. Disamping juga, jika unit usaha betul-betul dikelola dengan baik, akan mengasilkan keuntungan yang besar. inilah potensi-potensi terpendam yang belum sepenuhnya kita manfaatkan.
Di bidang proses belajar-mengajar, pihak sekolah dituntut untuk menciptakan suasana belajar seefektif mungkin. Pendidik juga perlu menyuntikkan kecintaan membaca, menelaah, berdiskusi dan beramal kreatif kepada anak didiknya.
Ketiga, Keterpaduan di bidang terapan ilmu. Artinya, semua ilmu yang dipelajari bisa diwujudkan dialam nyata ini, ada aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Secara spesifik, terapan ilmu yang kita maksud adalah dengan mengajarkan keterampilam-keterampilan, seperti menjahit, komputer, beternak, bercocok tanam, dan sebagainya.
Secara lebih luas lagi, terapan ilmu yang kita maksud adalah memberikan bekal kepada anak didik agar mereka mampu menyelesaikan problematika ummah dewasa ini. Mereka hendaknya mampu memberikan solusi-solusi aplikatif, menghentikan segala bentuk kezaliman dan ketidakadilan yang selalu menimpa rakyat,menyelesaikan krisis multi dimensional dan permasalahan lainnya.
Kita tidak sedang bermimpi, kalau kita mau berbuat. Bukan sebuah utopia jika kita berani memulai langkah pertama. “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada mereka sendiri.” (Q.S Ar Ra’du : 11)