Kaidah-kaidah menjaga kesehatan yang dijelaskan oleh Al Qur’an dan Al Hadits dapat dibagi menjadi tiga :

1. Menjaga kesehatan
Allah mengisyaratkan dalam firmanNya, yang artinya:
Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalula berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS Al Baqarah:184).

Imam lbnu Qayyim mengatakan, “Dalam ayat ini, Allah membolehkan berbuka bagi orang yang sakit, karena alasan sakitnya. Dan bagi orang yang bersafar karena berkumpulnya kesusahan-kesusahan yang akan menyebabkan lemahnya badan, sehingga Allah membolehkan orang yang bersafar untuk berbuka, untuk memelihara kekuatan mereka dari hal-hal yang bisa melemahkannya.”

2. Menjaga (diri) dari hal-hal yang membahayakan.
Kaidah ini telah diisyaratkan Allah dalam firmanNya, yang artinya :
Dan jika kamu sakit atau sedang dalam pejalanan (safar) atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci). (QS An Nisa’: 43).
Dalam ayat ini Allah membolehkan orang yang sakit untuk menggunakan debu yang suci dan tidak menggunakan air, demi menjaga badan dari hal-hal yang bisa membahayakannya.
Disini juga terdapat peringatan agar menjaga diri dari setiap hal yang bisa membahayakan, baik dari dalam maupun dari luar.

3. Membuang zat-zat yang rusak.
Sebagaimana yang dlisyaratkan oleh Allah dalam firmanNya, yang artinya:
Jika ada diantara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia b ercukur), maka wajib atasnya berfidyah, yaitu berpuasa, atau bersedekah atau berkorban.(QS Al Baqarah:196).
Dalam ayat ini Allah membolehkan bagi orang yang sakit atau yang ada gangguan di kepalanya, seperti: kutu, atau rasa gatal, atau yang lainnnya; maka boleh baginya memotong rambutnya walaupun sedang dalam keadaan ihram, untuk menyingkirkan zat-zat yang menyebabkan penyakit di kepalanya.
Bertolak dari sini juga, banyak hadits-hadits shahih yang penuh berisi wasiat agar berbekam. Bahkan ketika Nabi mi’raj, beliau diperintahkan oleh para malaikat untuk berhijamah (berbekam), sebagaimana sabda beliau,
Tidaklah aku melewati satu malaikat dari malaikat-malaikat kecuali mereka mengatakan, “Wahai Muhammad perintahkanlah umatmu untuk berbekam.”
Beliau juga bersabda,
Apabila obat itu ada pada sesuatu, maka pada tiga hal: goresan orang yang berbekam, jilatan madu, dan kay (besi yang dipanaskan); dan aku dilarang dari kai .”
Jadi, menahan zat-zat yang rusak di dalam badan menjadi sebab ulama timbulnya penyakit-penyakit ganas. Para dokter dan ulama’ menyebutkan -seperti Ibnul Qayyim dan yang lainnya-bahwa ada sepuluh hal, yang jika ditahan bisa menimbulkan penyakit ganas. Yaitu: darah apabila tekanannya naik, mani jika telah memuncak (tak tersalurkan), air kencing, berak, kentut, muntah, bersin, mengantuk, lapar, dan haus. Masing-masing dari sepuluh macam ini, apa bila ditahan akan mengakibatkan penyakit sesuai dengan kadarnya.

Dikutip dari : Kaidah-Kaidah Thibbun Nabawi, oleh : Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr